Banyuwangi : Jejak Terakhir Majapahit di Bumi Blambangan


Oleh: Alfan

RakyatIndonesia.id - Banyuwangi, yang kini dikenal sebagai kota paling timur di Pulau Jawa, menyimpan sejarah panjang yang kaya dan mendalam. Wilayah ini dahulu dikenal dengan nama Blambangan, sebuah kerajaan yang menjadi benteng terakhir Kerajaan Majapahit sebelum akhirnya runtuh dan memberi jalan bagi kekuasaan Islam di Nusantara.

Asal-Usul Nama Blambangan

Nama Blambangan diyakini berasal dari kata “balambangan”, yang dalam bahasa Kawi bisa bermakna “tempat yang bersinar” atau “yang terang benderang”. Dalam legenda lokal, juga sering dikaitkan dengan cerita rakyat seperti Legenda Sri Tanjung, yang menjadi asal mula nama Banyuwangi—berarti “air yang harum”.

Kerajaan Blambangan: Warisan Majapahit

Blambangan muncul sebagai kerajaan mandiri sekitar abad ke-13–14, pada masa melemahnya kekuasaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh pada abad ke-15, Blambangan berdiri sebagai pewaris budaya Hindu-Buddha terakhir di Jawa. Blambangan menjadi simbol perlawanan terhadap Islamisasi dan kolonialisme.

Kerajaan ini memiliki hubungan erat dengan Majapahit, baik secara politik maupun budaya. Banyak bangsawan dan pendeta Hindu-Buddha dari Majapahit yang melarikan diri ke Blambangan setelah ibu kota Majapahit jatuh ke tangan Kesultanan Demak.

Perlawanan terhadap Islamisasi dan Penjajahan

Blambangan dikenal sebagai kerajaan yang gigih mempertahankan identitasnya dari pengaruh Islamisasi yang dilakukan oleh Kesultanan Demak, Mataram, bahkan Banten. Penyerangan demi penyerangan dilakukan, namun Blambangan tetap bertahan selama berabad-abad.

Di masa kolonial, Blambangan juga mengalami pergolakan. Pada abad ke-18, wilayah ini menjadi target kekuasaan VOC (Belanda) yang ingin menguasai jalur perdagangan strategis di Selat Bali. Blambangan akhirnya takluk setelah berbagai konflik, termasuk Perang Bayu (1771–1773), di mana tokoh Raden Mas Rempeg memimpin perlawanan sengit terhadap Belanda.

Transisi Menjadi Banyuwangi

Setelah Blambangan dikuasai VOC, pemerintah kolonial Belanda membentuk wilayah administratif baru bernama Banyuwangi pada tahun 1774. Nama ini berasal dari legenda Sri Tanjung, di mana kesetiaan seorang istri dibuktikan dengan harum air sungai tempat jasadnya dibuang.

Mulai saat itu, wilayah Blambangan perlahan-lahan mengalami perubahan struktur politik, budaya, dan sosial, dari kerajaan Hindu-Buddha menjadi bagian dari sistem kolonial dan kemudian republik modern.

Warisan Budaya Blambangan

Meski kerajaan Blambangan telah lama runtuh, peninggalan budayanya masih sangat terasa:

Tari Gandrung, simbol perempuan tangguh Blambangan.

Upacara Seblang, ritual khas yang diyakini berasal dari masa pra-Islam.

Bahasa Osing, satu-satunya bahasa keturunan Jawa Kuno yang masih digunakan di Banyuwangi.

Candi dan situs arkeologi, seperti Situs Macan Putih dan Pura Agung Blambangan. (Red)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Solidaritas Pemuda Plintahan Gelar Gema Takbir Keliling Berhadiah dalam Rangka Peringatan Hari Raya Idul Adha 1446 H

Antusiasme Warga Dusun Plintahan RT 04 RW 02 Rayakan Hari Raya Idhul Adha

Jejak Panjang Sejarah Perkembangan Hukum Perburuhan: Dari Revolusi Industri hingga Era Digital